Beragama Dan kebaikan


Mengutip sebuah pernyataan dari seorang kompasiana “Agama tidak ada hubungannya dengan kebaikan. Karena setiap manusia diberikan kemampuan yang sama untuk berbuat kebaikan” sedikit menggelitik nalar saya. Sebagai seorang yang beragama Islam saya coba melihat dari perspektif saya sebagai seorang muslim yang berlumur dosa ini.

 Hakekatnya setiap manusia diberi modal yang sama untuk menjadi jahat atau baik. Dan juga diberi kesempatan untuk memilih jalan yang “gelap” atau jalan yang “terang”,Karena jauh di dalam diri seorang manusia sudah ditanamkan nilai-nilai kebaikan. Tapi, disamping itu manusia juga di takdirkan memiliki nafsu yang kemudian memicu kita untuk melakukan hal-hal buruk yang terkadang malah dengan alasan demi “kebaikan”.
Agama (Islam) kemudian menjadikan setiap perbuatan baik manusia menjadi amal sholeh yang bernilai pahala. Bayangkan seorang menusia berbuat baik menjadi tidak bernilai ibadah karena tidak memenuhi kaidah-kaidah seorang hamba,betapa ruginya. Contoh: jika seorang pekerja bekerja penuh hingga berlumur peluh tapi ternyata dia lupa untuk mengisi absensi karyawan kira-kira apa yang terjadi? Atau seorang pelajar yang sudah penuh memgisi lembar jawaban ujian tapi ia lupa mencantumkan nama atau nomor ujian, bagaimana hasilnya?
 Agama (Islam) memjadikan manusia menjadi lebih manusia. Seperti bahan baku diolah menjadi bahan jadi yang siap dipergunakan. Atau Agama (Islam) justru menjadi pemantik munculnya kebaikan yang pun sudah ada dalam diri seseorang. Mengeluarkan bagian terbaik yang lama terendap dalam kalbu. Bukan tidak ada,kebaikan memang sudah “lengkap” ada di diri kita,hanya tinggal menunggu diangkat untuk melengkapi kemanusiaan kita.
 Maka,jangan biarkan kebaikan yang ada didalam diri kita terkubur tak termanfaatkan sepenuhnya. Munafik bila kita menganggap seseorang manusia bisa terus-menerus berbuat baik tapi kita juga terlalu naif bila menafikan kebaikan-kebaikan orang-orang yang kerap berbuat keburukan. Sebagai penutup saya ingin mengatakan “Beragama atau tidak,setiap orang bisa berbuat baik. Tapi dengan tuntunan agama (Islam),kebaikan seseorang akan jadi kemuliaan”

Teruntuk Bapak-Bapak Supir angkot


Kepada Bapak-Bapak supir angkot kota Medan Terhormat….
Melalui pesan singkat ini, saya, selaku penumpang angkot yg sering dibuat jantungan oleh bapak2 sekalian, ingin memberitahukan, bahwa saya merasa kehilangan kenyamanan menggunakan fasilitas angkot di kota medan ini.
Saking shock’a, sampai2 saya berharap pemerintah mengurangi setengah mobil angkot yg beredar di kota Medan tercinta ini. Bapak2 tau ga sih, bahwa rezeki itu sudah diatur oleh-Nya, jangan terlalu takut tertukar ataupun direbut oleh supir angkot lainnya, pak. Bapak2 ga perlu saling mengejar mobil angkot yg mendahului. Kalo bapak2 memang ingin menyalurkan naluri sembalap, bagus’a bapak2 ikut ajang balap liar aja tengah malam nanti.
Saya sering melihat kejadian tabrakan angkot yg mengakibatkan penumpang sekarat. Klo sdh kejadian seperti itu, bapak2 pasti langsung memasang wajah iba, sok polos, minta dikasihani, biar ga diamuk massa. Kenapa ga dari awal bapak2 memikirkan akibat dari ugal2an yg bapak2 lakukan? Ingat istri&anak dirumah pak…
Melalui pesan singkat ini, saya, selaku penumpang angkot yg sering dibuat jantungan oleh bapak2 sekalian, merasa hak saya sebagai penumpang tidak dipenuhi oleh bapak2. Hak utk mendapatkan kenyaman dari jasa angkutan yg bapak2 tawarkan.
Salam hormat dari saya, selaku penumpang angkot yg sering dibuat jantungan oleh bapak2 sekalian… -Saya kutip dari status seorang kawan di facebook. Rasanya menggelitik ketika membacanya. Situasi yang kerap menjadi bulan-bulanan masyarakat,balapan angkot ala fast furious-

Benarkah Durian Montong Berasal dari Thailand?


Alamendah's Blog

Benarkah Durian Montong berasal dari Thailand? Pencinta durian pasti mengenal Durian Montong. Jika durian dianggap sebagai “Rajanya Buah”, Durian Montong adalah “Rajanya Durian”. Dan jamak kita dengar tentang asal usul Si Raja Durian ini yang disebutkan berasal dari negara Thailand, bahkan dianggap sebagai buah khas Thailand. Pun tidak sedikit buah Durian Montong yang dijual di Indonesia diimpor dari Thailand. Termasuk anakan atau bibit pohonnya.

Durian Montong menjadi sangat terkenal, termasuk di Indonesia. Bahkan merajai perdagangan buah durian di Indonesia. Jenis durian ini terkenal memiliki rasa manis yang khas dan daging buahnya yang tebal. Setiap tahunnya, Indonesia mengimpor hingga 19 ton buah Durian Montong dari Thailand.

Lihat pos aslinya 429 kata lagi

Rahasia…


Ada sebuah kotak yang bernama rahasia,yang apabila di buka akan menyakitkan,bila di simpan membeban. hanya orang-orang tertentu yang sanggup menanggungnya. Rahasia adalah sebuah benda keramat yang mampu membuat orang-seorang bersahabat atau malah memisahkan orang-perorang yang berkerabat. Kenapa di sebut rahasia? Karena bukan untuk dibagi beramai-ramai. Dia dikhususkan hanya diri sendiri atau orang tertentu yang dipercaya yang empunya rahasia.

Tapi,ada pula yang disebut rahasia umum. Rahasia ini bukan lagi sebuah kotak,melainkan sebuah ruang yang ramai penghuninya. Mereka membicarakan banyak hal di sana menyangkut si empunya “ruangan”. Bisa jadi si empunya rahasia umum ini mengetahuinya tapi memilih untuk menutup telinganya,atau malah bangga dengannya.

Meski apapun namanya,rahasia itu umumnya mengandung aib yang tak layak untuk diperbincangkan banyak orang. Kalau mengandung prestasi namanya bukan lagi rahasia tapi kebanggaan. jadi,berhenti berbagi rahasia pada orang-orang yang tak sanggup memikulnya. Titipkan rahasiamu dalam nding-dinding yang kokoh,pohon-pohon yang menjulang tinggi atau di bawah tanah tandus berbatu,agar tak mudah untuk dicicipi para pemburu-pemburu atau pengelana yang kebetulan singgah.

Kacang


Dikacangin itu ada 2 tipe kacang,dikacangin kacang tojin,dikacangin kacang kulit. Akan saya jelaskan sebagai berikut:

1) Dikacangin kacang tojin itu berarti cueknya secara militan dan sporadis. Misalnya kamu chat ga pernah di bales atau disapa gak pernah senyum dan banyak contoh lain yang lebih mengerikan lagi. Kalau udah ketemu dengan situasi kayak gini ya mendingan nyari kesibukan lain deh dari pada buang-buang waktu dan tenaga.

2) Dikacangin kacang kulit, model ini cueknya terselubung atau istilah kerennya PHP (Pemberi Harapan Palsu) kalo diajakin jalan iya,ntar,nanti tapi gak pernah jadi. Di chat kadang bales kadang enggak, ya gitu deh,pokoknya perhatianmu di persilakan tunggu didepan pintu padahal di dalam gak ada orang.

Persimpangan


Saya bukan ingin membicarakan persimpangan dalam artian sebenarnya. Persimpangan yang saya maksud adalah pilihan-pilihan hidup yang kerap kita temui dalam seluk-beluk kehidupan.

Banyak orang beranggapan bahwa persimpangan yang dimaksud adalah berupa pilihan ketika ingin menentukan akan sekolah dimana,les privat dimana,kuliah dimana dan nanti setelah wisuda akan bekerja dimana. Menurut saya persimpangan itu adalah pilihan yang harus diambil ketika menghadapi masalah. Karena setiap tindakan yang kemudian dilaksanakan akan menentukan nasib seseorang kedepan.

Jadi,jangan terperangkap dipersimpangan semu yang penuh embel-embel akreditasi akademisi atau penghormatan kepangkatan. Karena persimpangan yang sebenarnya adalah pilihan tentang baik-buruk dan hidup-mati serta nilai-nilai kemanusiaan yang harus diperjuangkan.

Syukuri sebelum terlambat


Seringnya kita mencari sesuatu yang padahal sudah pun dimiliki. Mencari kebahagian di luar sana padahal segalanya itu bersumber dari diri kita sendiri. Kita yang memutuskan untuk bahagia atau tenggelam dalam kecewa.

Belajar untuk menghargai apa yang sudah dimiliki adalah salah satu cara menemukan kebahagian sejati. Karena apa yang terlihat begitu mempesona akan menjadi hambar jika tidak mampu menghargai. Jangan sampai saat sudah kehilangan baru terasa sesuatu itu sangat berharga,jangan sampai bila sudah menjadi kenangan baru mampu mengerti bahwa sesuatu itu adalah yang dicari-cari selama ini.

“Jangan sampai Tuhan menganugerahkan dan kita justru menyia-nyiakan”

Percakapan Imajiner


   Pernahkah kamu bercakap-cakap dengan dirimu sendiri? Mengajukan tanya sekaligus menjawabnya sendiri di dalam hati? Tentu saja pernah,meski itu disadari atau tidak. Percakapan ini kerap di istilahkan dengan percakapan imajiner,percakapan yang seolah-olah di lakukan dua orang padahal hanya diri kita sendiri.

   Sering kita saksikan di televisi tontonan sinetron yang para pemainnya melakukan percakapan imajiner,baik itu tentang hal baik atau hal buruk. Percakapan imajiner ini sifatnya prasangka. Karena umumnya adalah suatu gambaran tentang suatu kejadian yang kita sendiri ragu tentangnya. Atau suatu pemikiran/perencanaan tentang suatu hal yang akan dilakukan.

   Terus apa masalahnya dengan percakapan imajiner ini? Tidak ada yang salah dengan percakapan imajiner. Tapi,pernahkah kita bercakap-cakap kepada diri kita sendiri untuk apa kita dilahirkan ke dunia? Dan,seberapa besar manfaat yang sudah kita hasilkan selama ini? Mari bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Sahabat?


Dalam lingkup pertemanan ada istilah “Sahabat”. Bobotnya lebih besar dari sekedar teman. Proses dari teman lalu menjadi sahabat membutuhkan waktu untuk menjadi lebih akrab. Kecendrungan keakraban dalam sebuah pertemanan adalah seberapa banyak mereka saling berkorban antara satu dengan lainnya. Semakin banyak hal pribadi dikorbankan,semakin erat pula tali pertemanan tersebut. Kalau untuk sesama lelaki bisa di lihat dari candaan mereka. Biasanya,semakin “Kasar” candaan mereka semakin dekat dan kuat pula keakraban mereka. Karena rasa sungkan dan malu-malunya sudah berkurang biasa sering di sebut blak-blakan.

  Tapi terkadang ada yang lupa, bahwa sesungguhnya pertemanan itu adalah sebuah proses symbiosis mutualisme,harus saling menguntungkan. Kenapa begitu? Bukankah seharusnya teman dekat tidak boleh hitung-hitungan? Maksud symbiosis mutualisme di sini bukanlah untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya,tapi adalah kebiasaan untuk take and give kepada sesama apabila membutuhkan.

  Adalah sifat dasar manusia memperhitungkan untung-rugi pada setiap tindakannya,baik itu untuk dirinya sendiri atau kepada orang lain. Coba saja perhatikan perlakuan diri kita terhadap masing-masing orang di sekitar kita,apakah ada perbedaan dari tiap-tiap mereka? Tentu saja,karena kita mengukur berdasarkan keakraban.

  Ini bukan tentang hitung-menghitung jasa,tapi untuk sekedar mengingatkan bahwa sesungguhnya,kepercayaan yang sudah diterima harus sebanding dengan tanggung jawab yang diberikan,barulah Persahabatan tersebut bisa langgeng.